Selasa, 04 Januari 2011

BULETIN MUNASHOROH MEMASUKI TAHUN KE-8

Alhamdulilah, berkat dukungan dan respon dari pembaca semua, Buletin Munashoroh masih eksis sampai Tahun yang ke-8 ini. Pendistribusiannya juga bertambah ke wilayah Pandeglang, Bogor, Sukabumi, Karawang, Kuningan dan Indramayu. Semoga Allah SWT senantiasa menambah Barokah buat kita. Amin



NB : Bila ada pembaca yang berkeinginan memperoleh Buletin Dakwah Munashoroh (GRATIS untuk Masjid Mushala di Jakarta, Jawa Barat dan Banten), dapat menghubungi kami di 021.99464830.

Jumat, 03 Desember 2010

Wawancara Radio JIC dengan Ketua Umum Munashoroh Indonesia


           
Hari kamis, 4 November 2010 lalu, Radio Jakarta Islamic Center (JIC) 107,7 FM mewawancarai Adhi Azfar (Ketua Umum Yayasan Munashoroh Indonesia) LIVE selama 2 jam, berikut petikannya :

JIC : Bisa Bang Adhi jelaskan, bagaimana sejarah berdirinya Munashoroh?
Adhi : Awal tahun 2000, ketika itu kami masih tergabung dalam Remaja Masjid di wilayah Pulo Asem, Pulogadung, Jakarta Timur. Kami menyaksikan sendiri bagaimana krisis moneter itu terjadi, disekeliling kami banyak muncul pengangguran baru, yang tadinya tidak miskin jadi miskin, bahkan yang miskin malah murtad / keluar dari Islam gara-gara dijanjikan sejumlah beras dan Mie. Lalu, kami mencoba mengumpulkan dana infaq dari warga sekitar. Alhamdulillah responnya cukup tinggi.

JIC : Setelah itu jadi Yayasan ?
Adhi : Ya, setelah 3 tahun berjalan ternyata kepercayaan warga sangat tinggi, yang dibuktikan dari dana yang dikumpulkan cukup banyak, sehingga pada 10 Juli 2003 kami menghadap notaris untuk membentuk sebuah Yayasan yang diberi nama Munashoroh. Tanggal tersebut kemudian kami jadikan Hari Ulang Tahun Yayasan.

JIC : Mengapa memilih nama Munashoroh? Apa filosofinya?
Adhi : Memang banyak pilihan kala itu. Nama Munashoroh kita pilih karena mewakili cara kerja kita, serta merepresentasikan visi dan misi kita untuk menolong, dan berbagi. Lalu kita juga menetapkan slogan yaitu berbagi sepenuh hati, berbakti tiada henti. Bila kita ingin berbagi, tidak perlu menunggu banyak baru dibagi, tapi apa yang kita miliki, bila ada orang lain membutuhkan, maka kita akan membaginya.

JIC : Sejak tahun 2003 itu, apa saja yang telah dilakukan? Program apa saja yang ada?
Adhi : Prinsip program kami adalah memberdayakan. Jadi tidak hanya menyantuni. Kita seringkali mendengar “Si Fulan penerima sembako dhuafa tahun ini..” Lalu tahun depan si Fulan itu jadi penerima sembako dhuafa lagi, tahun depan lagi..sampai seterusnya. Sehingga mereka yang miskin akan selalu jadi miskin dan menerima terus menerus. Itu namanya menyantuni, tapi kalau memberdayakan, maka mereka yang tadinya miskin, harus keluar dari lumpur kemiskinan, dengan program-program yang tepat sasaran. Salah satu program kami adalah Orang Tua Asuh Anak Yatim Desa, dimana anak-anak yang orang tuanya tidak berdaya karena kemiskinannya, kita sekolahkan, sampai mereka jadi “orang” berprestasi, bekerja dan berusaha untuk memperbaiki taraf hidupnya. Jangan sampai orang tua yang miskin melahirkan anak yang juga miskin.

JIC : Sekarang Munashoroh sudah memiliki Cabang Kepengurusan dimana saja?
Adhi : Sampai akhir tahun 2010 ini, sudah ada 10 Cabang Kepengurusan yang bersedia bekerja di Munashoroh sebagai ladang amal mereka (jadi memang tidak digaji bulanan, namun tetap ada beberapa penggantian uang pulsa, transport, dan kafalah diakhir tahun serta rihlah bagi pengurus dan keluarganya). Namun disini tidak mengurangi Profesionalitas Pengurus Yayasan, justru karena ikhlas bekerja itulah kita jadi Profesional. Terbukti dengan adanya 10 Cabang Munashoroh di Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Bekasi, Bogor, Tangerang, Pandeglang, Kuningan, Karawang, Indramayu dan Sukabumi. #


Sabtu, 30 Oktober 2010

Liputan dari Desa Kampung Baru Babelan Bekasi

Para Orang Tua Asuh yang dirahmati Allah SWT,
Berikut kami sampaikan laporkan Hasil Test dan Ujian anak yatim asuhan Bapak/Ibu/Sdr/i, dari Desa Kampung Baru Bekasi (Secara detail kami kirim langsung ke alamat tinggal atau Email Bapak/Ibu/Sdr/i)

Test & Ujian ini berlangsung pada hari Ahad 24 Oktober lalu, Anak-anak asuh Bapak/Ibu/Sdr/i telah melewati test & ujian Baca Qur'an, Hafalan Qur'an, Kemampuan Belajar di Sekolah.. Mereka semuanya semangat untuk terus sekolah, meski dengan kondisi terbatas..

Namun bagi Orang Tua Asuh yang memiliki anak asuh di Desa Tanjung Air (disebabkan cuaca hujan yang tidak menentu belakangan ini), Pengurus Munashoroh Bekasi sangat kesulitan menembus Desa tersebut, karena akses jalannya tergenang dan keterbatasan Sarana Transportasi kami.. Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini..
Jazakumullah, Semoga jadi Amal Sholeh bagi para Orang Tua Asuh semua...

--- Sukseskan Program Orang Tua Asuh Anak Yatim Desa  ---

Sabtu, 16 Oktober 2010

Orang Miskin itu, Tanggung Jawab Siapa ?

Humor seorang Sufi..

Alkisah ada seorang Sufi yang sudah merasa teramat dekat dengan Tuhan-nya. Suatu hari ketika sedang berjalan, Sang Sufi berpapasan dengan seorang yang sangat miskin. Tubuhnya kurus kering, tinggal tulang berbalut kulit yang dibungkus dengan kain compang-camping seadanya.
Badannya tergeletak lemas di pinggir jalan, bibirnya mengering, menandakan sudah lama si miskin tidak mendapat makan. Melihat penderitaan si miskin, Sang Sufi pun berteriak protes pada Tuhan-nya, “Ya Tuhan, mengapa Engkau tidak lakukan sesuatu untuk orang ini..” Sesaat kemudian, terdengar jawaban, “Ya! Makanya itu Aku ciptakan kamu!”

Sabtu, 11 September 2010

Sukseskan Program Orang Tua Asuh Anak Yatim Desa


Dengan Rp.30.000 Per Bulan, anda dapat menyantuni & menyekolahkan anak yatim di desa, sampai mereka lulus SMU.
Sejak program ini diluncurkan 2 bulan lalu, dari 241 anak yatim desa yang dibina Yayasan, masih ada 63 anak yatim desa lagi yang belum memperoleh Orang Tua asuhnya...
Anda-kah orangnya...? Hub. 021-99464830

MUNASHOROH JAWA BARAT IN ACTION (Agustus 2010)


Ahad, 15 Agustus 2010
# Meraih Penganugerahan Anak Yatim Desa Terbaik dari 4 Desa Binaan Munashoroh
# Pagelaran Seni Anak Yatim Desa Tanjung Air, Babelan, Bekasi
Restoran Papa Ron Pizza, Mampang, Jakarta Selatan

MELURUSKAN ARTI KATA “IDUL FITHRI”


Seringkali kita mendengar dari para penceramah di mimbar-mimbar menerangkan bahwa Idul Fithri itu maknanya ialah “Kembali kepada Fitrah.” Yakni : Kita kembali kepada fitrah kita semula (suci) disebabkan telah terhapusnya dosa-dosa kita.

            Secara terminologi, kata Ied memang artinya kembali (berasal dari kata 'ayada). Namun kata Fithr, berasal dari lafadz Fithru, atau Ifthaar, yang artinya menurut lughoh/bahasa : Berbuka (yakni berbuka puasa jika terkait dengan puasa).

            Jadi, Idul Fithri artinya adalah “Hari Raya berbuka Puasa” Atau “Kembali Berbuka.” Yakni kita kembali berbuka (tidak puasa lagi) setelah selama sebulan kita berpuasa. Bukan “Kembali kepada Fitrah” karena kata  “Fitrah” tulisannya menggunakan [Ta marbuthoh] setelah [Fa-Tha-Ra] sedangkan “Fithru” adalah [Fa-Tha-Ra] saja.“

            Secara syara' pun, hadits yang terkait dengan Idul Fithri juga menerangkan bahwa “Idul Fithri” itu ialah “Hari Raya Kita Kembali Berbuka Puasa.” Mari kita tengok haditsnya, “Dari Abi Hurairah (ia berkata), Bahwasanya Nabi SAW bersabda. “Shaum/puasa itu ialah pada hari kamu berpuasa, dan (Idul) Fithri itu ialah pada hari kamu berbuka. Dan (Idul) Adlha (yakni hari raya menyembelih hewan-hewan kurban) itu ialah pada hari kamu menyembelih hewan.” [Hadits Shahih. Dikeluarkan oleh Imam-imam : Tirmidzi No. 693, Abu Dawud No. 2324, Ibnu Majah No. 1660, Ad-Daruquthni 2/163-164 dan Baihaqy 4/252]

            Dalam salah satu lafadz Imam Daruquthni, “Puasa kamu ialah pada hari kamu (semuanya) berpuasa, dan (Idul) Fithri kamu ialah pada hari kamu (semuanya) berbuka.” Serta dalam lafadz Imam Ibnu Majah, “(Idul) Fithri itu ialah pada hari kamu berbuka, dan (Idul) Adlha pada hari kamu menyembelih hewan.”

            Oleh karena itu, lafadz tersebut dengan tegas-tegas menyatakan bahwa Idul Fithri ialah hari raya kita kembali berbuka puasa (tidak berpuasa lagi setelah selama sebulan berpuasa), sehingga disunnatkan makan terlebih dahulu pada pagi harinya, sebelum kita pergi ke tanah lapang untuk mendirikan shalat Ied. Supaya umat mengetahui bahwa Ramadhan telah selesai dan hari ini adalah hari kita berbuka bersama-sama. Itulah arti Idul Fithri yang sesungguhnya.